Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Manusia diberi beberapa kelebihan, salah satunya dianugerahi kepekaan rasa atau
getaran cinta kasih terhadap Sang Pencipta, sesama manusia maupun alam. Seiring
berkembangnya pola pikir dan pola rasa manusia, sudah seharusnya manusia merealisasikan
rasa syukur atas hidup dan kehidupan kepada Sang Pencipta. Pengungkapan rasa
syukur kepada Tuhan berbeda-beda, tergantung suatu suku, bangsa dan keyakinan,
namun makna yang terkandung sama. Kesamaan itu disebabkan hakikat penciptaan
manusia, yakni satu asal, satu ciptaan dan satu bakal. Pengertian satu asal
yaitu kita berasal dari tanah sebagai bahan baku yang sama. Satu ciptaan yaitu
kita memiliki kesamaan diciptakan oleh Tuhan. Dan satu bakal yaitu kita bakal
atau akan kembali ke akhirat pada hari akhir nanti.
Salah
satu wujud pengungkapan rasa syukur yang dilakukan masyarakat Sunda adalah
Upacara Adat Seren Taun. Jika diartikan secara harfiah dalam Bahasa Sunda, seren berarti serah atau seserahan, dan taun berarti tahun yang terdiri dari duabelas
bulan. Seren Taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas segala hasil pertanian selama satu tahun yang telah berlalu serta berharap
hasil pertanian akan meningkat pada tahun yang akan datang. Upacara Seren Taun
masih digelar di beberapa wilayah Jawa Barat dan Banten seperti Desa Cigugur
Kuningan, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kampung Naga Tasikmalaya dan
Desa Kanekes Banten.
Upacara
Seren taun yang diadakan masyarakat Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan
dilaksanakan di pelataran Gedung Paseban Tri Panca Tunggal.Paseban tersebut memiliki
makna tempat mempersatukan tiga kehendak yaitu cipta, rasa dan karsa, yang
diwujudkan dalam sikap perilaku melalui aktivitas panca indera.Perlu diketahui
bahwa masyarakat Desa Cigugur menganut beberapa agama dan adat istiadat. Bentuk
kepercayaan masyarakat yang masih kental ditunjukkan dalam acara Seren Taun .Adapun
acara tersebut diikuti oleh ribuan orang dari pelosok Jawa Barat yang datang
untuk menyaksikan rangkaian acara Seren Taun. Selain itu, setiap perwakilan
suku di Indonesia akan menghadiri acara tersebut dengan pakaian khas daerahnya
masing-masing.
Pesta
rakyat ini biasanya berlangsung seminggu mulai dari tanggal 18 Raya Agung dan
puncaknya pada tanggal 22 Raya Agung, bulan terakhir atau bulan keduabelas
dalam perhitungan tahun Sunda (Saka), atau 18-22 Dzulhijjah dalam perhitungan
tahun Hijriyah. Raya Agung berarti keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20
dan 2. Duapuluh dilambangkan sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya
kesadaran diri selaku manusia. Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat
berpasangan seperti baik dan buruk, suka dan duka, serta laki-laki dan
perempuan. Bilangan 22 juga digunakan dalam simbolis padi yang ditumbuk pada
puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan
dibagikan kembali pada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih.
Seren
Taun di Cigugur dibawa oleh Pangeran Madrais atau Pangeran Alibasa Kusuma
Adiningrat (1825-1939) yang merupakan keturunan Keraton Gebang, daerah Cirebon
Timur. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri
atau Dewi Sri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari
Jabaning langit yang turun ke bumi. Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek
utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran dan merupakan
sumber bahan makanan utama. Dalam upacara ini dituturkan kembali kisah-kisah
klasik yang bercerita tentang perjalanan Dewi Sri.
Selain
ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga pentas kesenian. Kegiatan in
bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan antar
sesama manusia dan alam. Dalam pelaksanaannya, Seren Taun dilaksanakan oleh
masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan. Hal ini merupakan wujud realisasi
dari semboyan Bangsa Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika.
Hal
yang ditampilkan dalam acara Seren Taun antara lain Damar Sewu atau seribu
pelita yang merupakan awal dari rangkaian upacara adat Seren Taun yang
menggambarkan pelita hati manusia dalam menjalani proses kehidupan. Pesta
Dadung merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan alam seperti peneneman pohon
dan pembuangan hama.Nyiblung merupakan perlombaan yang menggunakan air sebagai
medianya, air yang dipukul akan menghasilkan bunyi tertentu sehingga akan
tercipta nada indah. Berbagai kesenian pun ditampilkan dalam upacara ini,
antara lain Angklung Buncis yang merupakan angklung khas daerah Cigugur,
Angklung Baduy, Pencak Silat dan lain-lain.
Pada
malam sebelum hari puncak, diadakan doa bersama di gedung Paseban Tri Panca
Tunggal. Prosesi ini disebut Ngajarah. Acara ini sangat khidmat. Para pemuka
dari setiap agama secara bergiliran membacakan doa, memohon kepada Tuhan agar
tahun-tahun yang akan datang selalu diberkahi-Nya. Di dalam acara ini pun
terdapat dialog terbuka lintas agama mengenai lingkungan.
Tiba
saat hari puncak, para petani dengan perasaan sukaria membawa pikulan padi.
Prosesi ini dinamakan Ngajayak yang berarti menjemput padi. Pada prosesi ini,
terdapat empat barisan yang mewakili empat arah mata angin yakni barat, utara,
timur dan selatan. Hal ini mengandung arti bahwa Tuhan telah menyiapkan
sumber-sumber kehidupan di setiap penjuru alam. Setiap baris terdiri dari
sebelas pasang remaja putri dan putra, para ibu dan para bapak yang membawa
hasil bumi.
Barisan
terdepan yaitu sebelas remaja putri yang membawa buah-buahan, umbi-umbian dan
padi yang dipayungi oleh sebelas remaja putra secara berpasangan. Bilangan
sebelas atau sawelas dalam Bahasa
Sunda memiliki arti cinta kasih. Para remaja digambarkan sebagai pemegang
tongkat estafet atau generasi penerus hidup dan kehidupan bangsa. Dibelakang
barisan remaja, ada ibu-ibu yang menyuhun
nampan berisi padi dan buah-buahan di atas kepala. Menyuhun berasal dari katanyuwun artinya memohon. Hal ini bemakna
doa memohon agar generasi penerus dapat menjalankan amanah sesuai aturan Yang
Maha Kuasa. Di belakang barisan ibu-ibu, ada bapak-bapak yang memikul rengkong
atau bambu yang berisi padi. Makna dari hal ini adalah kaum pria memiliki tanggungjawab
atas keluarganya.
Ketika
barisan hampir tiba di tempat upacara, barisan berhenti sejenak untuk
menyaksikan Tari Buyung khas daerah Cigugur. Tarian ini diangkat dari kebiasaan
lampau masyarakat Cigugur dalam mengambil air. Tarian ini melibatkan puluhan
penari. Dengan konsentrasi penuh, penari mampu berdiri di atas kendi sambil menyuhun tong berisi air di dalamnya
serta melenggak-lengok dengan menawan.
Saat
tiba di tempat upacara, padi sebanyak 2 kwintal diserahkan kepada ketua adat.
Padi tersebut akan disimpan dan dijadikan bibit untuk tahun mendatang.
Sementara itu, beberapa lesung panjang siap diisi untaian padi. Kaum ibu tampil
seragam dengan mengenakan kostum kuning simbol keemasan dan seuntai padi yang
menghiasi rambut. Selanjutnya, padi sebanyak 20 kwintal ditumbuk bersama-sama.
Acara penumbukan padi melibatkan semua orang, baik pria-wanita, tua-muda, akan
melebur jadi satu. Acara ini merupakan titik puncak Seren Taun yang sakral.
Seribu
kentongan merupakan acara penutup dari rangkaian upacara Seren Taun. Dimulai
dengan pukulan awal oleh ketua adat kemudian diikuti oleh para peserta.
Kentongan bambu memiliki arti kita harus ingat pada asal dan hukum yang menentukan
nilai kemanusiaan. Dan pada akhirnya rangkaian acara Seren Taun ditutup oleh
rampak gendang yang terdiri dari sepuluh sampai duabelas orang.
“Upacara
Seren Taun dari tahun ke tahun berbeda, terdapat beberapa penambahan acara
namun intinya tetap sama yaitu wujud syukur kepada Tuhan”, ujar Bapak Gumirat
selaku wakil ketua adat. Beliau jugamenambahkan, maksud dan tujuan upacara Seren
Taun di Cigugur antara lain mencerminkan budaya agraris, menghormati Sang
Pencipta, mencerminkan hubungan manusia dengan alam, membangun kebersamaan dan
perekat persatuan dalam kebudayaan. Budaya gotong royong sangat dijunjung,
contohnya dalam rangkaian persiapan menuju perayaan Seren Taun. Semua orang
saling membantu tanpa melihat ras maupun agama.
Masyarakat
setempat menganggap kegiatan Seren Taun dapat mendatangkan berkah dan membuat
hasil pertanian melimpah pada tahun yang akan datang. Meskipun upacara Seren
Taun sempat dilarang pada tahun 1982 tanpa adanya alasan yang jelas dan tahun
1988 dengan alasan adanya unsur Agama Djawa Sunda (ADS) yang dianggap
menyimpang dari agama yang sudah ada. Tuntutan perizinan yang berbelit-belit, menyebabkan
Seren Taun pada tahun 1989 pun tidak dilaksanakan. Meski begitu, masyarakat
tetap berkumpul di gedung Paseban Tri Panca Tunggal karena merasa terpanggil
untuk bersyukur walau tidak lagi diekspresikan dalam formalisasi upacara yang
layak. Seiring berjalannya waktu, karena Seren Taun merupakan kebutuhan
masyarakat Cigugur dan mereka merasakan makna yang terkandung di dalam
pelaksanaan Seren Taun, maka upacara ini kembali diperbolehkan meskipun tidak
semeriah tahun-tahun sebelum adanya pembubaran. Di samping itu, kini pemerintah
daerah Kabupaten Kuningan sangat mendukung adanya upacara Seren Taun
dikarenakan banyak wisatawan asing yang datang sehingga dapat menambah devisa
serta menambah penghasilan bagi para pedagang di sekitar tempat upacara
berlangsung.
Penulis: Siti Rahmaniah Nurfaathiroh
Publikasi: 26 September 2015