Sabtu, 26 September 2015

Perwujudan Rasa Syukur Masyarakat Cigugur Dengan Seren Taun


        Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Manusia diberi beberapa kelebihan, salah satunya dianugerahi kepekaan rasa atau getaran cinta kasih terhadap Sang Pencipta, sesama manusia maupun alam. Seiring berkembangnya pola pikir dan pola rasa manusia, sudah seharusnya manusia merealisasikan rasa syukur atas hidup dan kehidupan kepada Sang Pencipta. Pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan berbeda-beda, tergantung suatu suku, bangsa dan keyakinan, namun makna yang terkandung sama. Kesamaan itu disebabkan hakikat penciptaan manusia, yakni satu asal, satu ciptaan dan satu bakal. Pengertian satu asal yaitu kita berasal dari tanah sebagai bahan baku yang sama. Satu ciptaan yaitu kita memiliki kesamaan diciptakan oleh Tuhan. Dan satu bakal yaitu kita bakal atau akan kembali ke akhirat pada hari akhir nanti.
            Salah satu wujud pengungkapan rasa syukur yang dilakukan masyarakat Sunda adalah Upacara Adat Seren Taun. Jika diartikan secara harfiah dalam Bahasa Sunda, seren berarti serah atau seserahan, dan taun berarti tahun yang terdiri dari duabelas bulan. Seren Taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian selama satu tahun yang telah berlalu serta berharap hasil pertanian akan meningkat pada tahun yang akan datang. Upacara Seren Taun masih digelar di beberapa wilayah Jawa Barat dan Banten seperti Desa Cigugur Kuningan, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kampung Naga Tasikmalaya dan Desa Kanekes Banten.
            Upacara Seren taun yang diadakan masyarakat Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan dilaksanakan di pelataran Gedung Paseban Tri Panca Tunggal.Paseban tersebut memiliki makna tempat mempersatukan tiga kehendak yaitu cipta, rasa dan karsa, yang diwujudkan dalam sikap perilaku melalui aktivitas panca indera.Perlu diketahui bahwa masyarakat Desa Cigugur menganut beberapa agama dan adat istiadat. Bentuk kepercayaan masyarakat yang masih kental ditunjukkan dalam acara Seren Taun .Adapun acara tersebut diikuti oleh ribuan orang dari pelosok Jawa Barat yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara Seren Taun. Selain itu, setiap perwakilan suku di Indonesia akan menghadiri acara tersebut dengan pakaian khas daerahnya masing-masing.
            Pesta rakyat ini biasanya berlangsung seminggu mulai dari tanggal 18 Raya Agung dan puncaknya pada tanggal 22 Raya Agung, bulan terakhir atau bulan keduabelas dalam perhitungan tahun Sunda (Saka), atau 18-22 Dzulhijjah dalam perhitungan tahun Hijriyah. Raya Agung berarti keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20 dan 2. Duapuluh dilambangkan sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya kesadaran diri selaku manusia. Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat berpasangan seperti baik dan buruk, suka dan duka, serta laki-laki dan perempuan. Bilangan 22 juga digunakan dalam simbolis padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali pada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih.
            Seren Taun di Cigugur dibawa oleh Pangeran Madrais atau Pangeran Alibasa Kusuma Adiningrat (1825-1939) yang merupakan keturunan Keraton Gebang, daerah Cirebon Timur. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning langit yang turun ke bumi. Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran dan merupakan sumber bahan makanan utama. Dalam upacara ini dituturkan kembali kisah-kisah klasik yang bercerita tentang perjalanan Dewi Sri.
            Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga pentas kesenian. Kegiatan in bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan antar sesama manusia dan alam. Dalam pelaksanaannya, Seren Taun dilaksanakan oleh masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan. Hal ini merupakan wujud realisasi dari semboyan Bangsa Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika.
            Hal yang ditampilkan dalam acara Seren Taun antara lain Damar Sewu atau seribu pelita yang merupakan awal dari rangkaian upacara adat Seren Taun yang menggambarkan pelita hati manusia dalam menjalani proses kehidupan. Pesta Dadung merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan alam seperti peneneman pohon dan pembuangan hama.Nyiblung merupakan perlombaan yang menggunakan air sebagai medianya, air yang dipukul akan menghasilkan bunyi tertentu sehingga akan tercipta nada indah. Berbagai kesenian pun ditampilkan dalam upacara ini, antara lain Angklung Buncis yang merupakan angklung khas daerah Cigugur, Angklung Baduy, Pencak Silat dan lain-lain.
            Pada malam sebelum hari puncak, diadakan doa bersama di gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Prosesi ini disebut Ngajarah. Acara ini sangat khidmat. Para pemuka dari setiap agama secara bergiliran membacakan doa, memohon kepada Tuhan agar tahun-tahun yang akan datang selalu diberkahi-Nya. Di dalam acara ini pun terdapat dialog terbuka lintas agama mengenai lingkungan.
            Tiba saat hari puncak, para petani dengan perasaan sukaria membawa pikulan padi. Prosesi ini dinamakan Ngajayak yang berarti menjemput padi. Pada prosesi ini, terdapat empat barisan yang mewakili empat arah mata angin yakni barat, utara, timur dan selatan. Hal ini mengandung arti bahwa Tuhan telah menyiapkan sumber-sumber kehidupan di setiap penjuru alam. Setiap baris terdiri dari sebelas pasang remaja putri dan putra, para ibu dan para bapak yang membawa hasil bumi.
            Barisan terdepan yaitu sebelas remaja putri yang membawa buah-buahan, umbi-umbian dan padi yang dipayungi oleh sebelas remaja putra secara berpasangan. Bilangan sebelas atau sawelas dalam Bahasa Sunda memiliki arti cinta kasih. Para remaja digambarkan sebagai pemegang tongkat estafet atau generasi penerus hidup dan kehidupan bangsa. Dibelakang barisan remaja, ada ibu-ibu yang menyuhun nampan berisi padi dan buah-buahan di atas kepala. Menyuhun berasal dari katanyuwun artinya memohon. Hal ini bemakna doa memohon agar generasi penerus dapat menjalankan amanah sesuai aturan Yang Maha Kuasa. Di belakang barisan ibu-ibu, ada bapak-bapak yang memikul rengkong atau bambu yang berisi padi. Makna dari hal ini adalah kaum pria memiliki tanggungjawab atas keluarganya.
            Ketika barisan hampir tiba di tempat upacara, barisan berhenti sejenak untuk menyaksikan Tari Buyung khas daerah Cigugur. Tarian ini diangkat dari kebiasaan lampau masyarakat Cigugur dalam mengambil air. Tarian ini melibatkan puluhan penari. Dengan konsentrasi penuh, penari mampu berdiri di atas kendi sambil menyuhun tong berisi air di dalamnya serta melenggak-lengok dengan menawan.
            Saat tiba di tempat upacara, padi sebanyak 2 kwintal diserahkan kepada ketua adat. Padi tersebut akan disimpan dan dijadikan bibit untuk tahun mendatang. Sementara itu, beberapa lesung panjang siap diisi untaian padi. Kaum ibu tampil seragam dengan mengenakan kostum kuning simbol keemasan dan seuntai padi yang menghiasi rambut. Selanjutnya, padi sebanyak 20 kwintal ditumbuk bersama-sama. Acara penumbukan padi melibatkan semua orang, baik pria-wanita, tua-muda, akan melebur jadi satu. Acara ini merupakan titik puncak Seren Taun yang sakral.
            Seribu kentongan merupakan acara penutup dari rangkaian upacara Seren Taun. Dimulai dengan pukulan awal oleh ketua adat kemudian diikuti oleh para peserta. Kentongan bambu memiliki arti kita harus ingat pada asal dan hukum yang menentukan nilai kemanusiaan. Dan pada akhirnya rangkaian acara Seren Taun ditutup oleh rampak gendang yang terdiri dari sepuluh sampai duabelas orang.
            “Upacara Seren Taun dari tahun ke tahun berbeda, terdapat beberapa penambahan acara namun intinya tetap sama yaitu wujud syukur kepada Tuhan”, ujar Bapak Gumirat selaku wakil ketua adat. Beliau jugamenambahkan, maksud dan tujuan upacara Seren Taun di Cigugur antara lain mencerminkan budaya agraris, menghormati Sang Pencipta, mencerminkan hubungan manusia dengan alam, membangun kebersamaan dan perekat persatuan dalam kebudayaan. Budaya gotong royong sangat dijunjung, contohnya dalam rangkaian persiapan menuju perayaan Seren Taun. Semua orang saling membantu tanpa melihat ras maupun agama.
            Masyarakat setempat menganggap kegiatan Seren Taun dapat mendatangkan berkah dan membuat hasil pertanian melimpah pada tahun yang akan datang. Meskipun upacara Seren Taun sempat dilarang pada tahun 1982 tanpa adanya alasan yang jelas dan tahun 1988 dengan alasan adanya unsur Agama Djawa Sunda (ADS) yang dianggap menyimpang dari agama yang sudah ada. Tuntutan perizinan yang berbelit-belit, menyebabkan Seren Taun pada tahun 1989 pun tidak dilaksanakan. Meski begitu, masyarakat tetap berkumpul di gedung Paseban Tri Panca Tunggal karena merasa terpanggil untuk bersyukur walau tidak lagi diekspresikan dalam formalisasi upacara yang layak. Seiring berjalannya waktu, karena Seren Taun merupakan kebutuhan masyarakat Cigugur dan mereka merasakan makna yang terkandung di dalam pelaksanaan Seren Taun, maka upacara ini kembali diperbolehkan meskipun tidak semeriah tahun-tahun sebelum adanya pembubaran. Di samping itu, kini pemerintah daerah Kabupaten Kuningan sangat mendukung adanya upacara Seren Taun dikarenakan banyak wisatawan asing yang datang sehingga dapat menambah devisa serta menambah penghasilan bagi para pedagang di sekitar tempat upacara berlangsung.

Penulis: Siti Rahmaniah Nurfaathiroh
Publikasi: 26 September 2015

Hijab


Seorang gadis membeli sebuah hape keluaran terbaru. Untuk melengkapi hapenya nya gadis itu juga membeli layar antigores dan sebuah cover cantik untuk hape tersebut. Gadis itu menunjukkan handphone barunya kepada sang ayah, kemudian terjadi percakapan seperti di bawah ini:
Ayah: “Wah, hape mu bagus sekali nak. Berapa harganya?”
Gadis: “Harga hapenya 7 juta, 200 ribu untuk covernya, dan 100 ribu untuk antigoresnya.”
Ayah: “Oh, kenapa kamu sampai harus membeli cover dan antigoresnya? Padahal kamu bisa menghemat 300 ribu”.
Gadis: “Ayah! Aku sudah menghabiskan 7 juta untuk membeli hape ini, bagaimana kalau hape ini sampai rusak!? 300 ribu bukan apa-apa dibanding keamanan hapeku. Lagipula covernya membuat hapeku semain terlihat cantik.”
Ayah:” Hmm, bukankah berarti produsen hapemu itu teledor karena membuat hape yang tidak cukup aman jika tidak pakai perlindungan?”
Gadis:” Tidak Ayah! Produsen Hape ini sendiri yang merekomendasikan untuk membeli layar antigores dan cover untuk perlindungan. Dan aku tentu tidak mau Hapeku rusak!”
Ayah: “Apakah semua itu malah membuat kecantikan hapemu berkurang?”
Gadis: “Tidak, malah Hapeku semakin terlihat cantik”.
Sang ayah menatap anak perempuannya kesayangannya dengan senyum penuh sayang. Kemudian sang ayah berucap, “Anakku, kamu tahu ayah sangat menyayangimu. Kamu membayar 7 juta untuk membeli hape favoritmu dan 300 ribu untuk perlindungannya. Dan Ayah sudah membayar dengan segenap hidup ayah untuk memilikimu, apalah artinya kalau kau tidak mengcover dirimu dengan hijab untuk perlindunganmu. Handphone ini tidak akan dipertanyakan di akhirat ini, tapi anakku, kau dan ayah akan dipertanyakan tentang perlindunganmu. Jika kau merelakan menghabiskan banyak uang untuk membuat hapemu terlindungi dan tampak indah. Maka kau harus bisa pula melakukan itu untuk dirimu. Kau akan terlindungi dan tampak cantik jika kau menggunakan hijab syar'i."