Sabtu, 07 November 2015

Tradisi Kuningan yang Terlupakan



Kuningan adalah sebuah kabupaten yang indah dan asri, terletak di bagian timur Jawa Barat dan penghubung Kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur, juga sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi Kuningan yang bagian timurnya berupa dataran rendah sedangkan di bagian barat berupa pegunungan dengan puncaknya Gunung Ciremai di perbatasan Kabupaten Majalengka, menyebabkan Kuningan mempunyai kebudayaan yang sangat beragam, baik itu budaya lokal maupun akulturasi dengan budaya daerah lain.
Kuningan mewarisi kebudayaan Sunda yang sangat kental, hal ini terlihat pada pemakaian Bahasa Sunda yang dominan di masyarakat dan tradisi Sunda yang khas pada setiap upacara adat. Beberapa tradisi Kuningan antara lain Saptonan, Seren Taun, Kawin Cai, Sintren dan Cingcowong.
            Saptonan adalah acara rutin setiap tahun pada Bulan September yang diselenggarakan Hari Sabtu setelah kegiatan serba raga yang dilaksanakan di sekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan) dan mempunyai makna seperti heroism serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya.
            Upacara Seren Taun adalah penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun ini serta salah satu media dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkah seiring dengan harapan agar tahun depan hasil panen dapat lebih melimpah lagi. Upacara ini biasa dilaksanakan di Kecamatan Cigugur pada tanggal 22 Raya Agung.
            Upacara adat Kawin Cai merupakan tradisi untuk memohon air hujan untuk mengairi lahan pertanian serta kebutuhan hidup lainnya. Dilaksanakan apabila terjadi kemarau panjang dengan mencampurkan mata air Balong Dalem dan mata air Cibulan. Upacara ini bertujuan untuk mengambil berkah air, biasa diselenggarakan di Kecamatan Jalaksana.
            Sintren merupakan seni hiburan rakyat yang pada pertunjukannya peran sintren harus dibawakan oleh seorang gadis yang masih suci. Begitu pula dengan pawang sintren harus dibawakan oleh sesepuh sehingga peran sintren yang sudah diikat dalam kurungan akan berubah memakai pakaian sintren. Tradisi sintren masih dilestarikan di daerah Cibingbin.
            Cingcowong adalah salah satu upacara ritual untuk meminta hujan pada zaman dahulu di saat musim kemarau panjang. Tradisi ini dilaksanakan di Kecamatan Luragung.
            Dengan tradisinya yang beragam, apakah masyarakat Kuningan, khususnya generasi muda mengenali tradisinya? Realitanya, banyak dari mereka yang tidak tahu bahkan tidak pernah mendengar tradisi-tradisi tersebut. Hanya sedikit masyarakat dan generasi muda yang tahu, itupun hanya tradisi di daerah tempat tinggalnya saja. Para pemuda Kuningan seolah-olah tidak mau ikut campur dengan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Tidak heran jika tradisi yang dimiliki hampir hilang karena tidak dilestarikan.
            Penyebab suatu tradisi tidak dilestarikan diantaranya adalah minimnya enkulturasi atau sosialisasi budaya. Masyarakat dan pemuda Kuningan merasa tidak tahu karena kurangnya informasi tentang tradisi tersebut. Tradisi-tradisi yang ada tidak ditanamkan dan diajarkan kepada pemuda sehingga mereka bersikap acuh tak acuh dengan tradisi setempat. Para pemuda Kuningan beranggapan bahwa tradisi dan budaya  adalah sesuatu yang kolot dan sudah ketinggalan zaman pada saat ini sehingga pantas untuk ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemuda kurang dilibatkan pada setiap tradisi. Selama ini hanya sesepuh daerah yang berperan menjaga tradisi. Sesepuh yang terlibat aktif untuk melaksanakan tradisi sementara pemuda kurang diikutsertakan sehingga pantaslah jika pemuda merasa tidak pernah mengetahui dan tidak pernah melihat pelaksanaan tradisi tersebut.
            Agar tradisi tetap dilestarikan, para pemuda harus ditanamkan dan diajarkan tentang tradisi daerahnya. Pemuda Kuningan perlu diperkenalkan dengan tradisinya agar mereka mengetahui dan memahami pentingnya menjaga tradisi yang hampir punah. Pengenalan tradisi dan budaya bisa dilaksanakan di sekolah karena sekolah merupakan media terpadu untuk proses belajar mengajar. Untuk itu, Pemerintah Daerah Kuningan perlu memasukkan konten pelestarian tradisi daerah di dalam pembelajaran. Enkulturasi atau sosialisasi budaya ini sangat diperluakn untuk membangun kecintaan terhadap tradisi daerah. Selain itu, perlu diadakan revitalisasi budaya atau pengemasan ulang budaya agar kebudayaan tersebut terlihat menari. Tradisi Kuningan bisa dipadukan dengan hal yang mengikuti perkembangan zaman seperti mode pakaian dan musik modern, namun tetap mengandung unsur-unsur inti suatu tradisi dan makna yang terkandung tidak berubah. Dengan adanya revitalisasi budaya, pemuda tidak akan beranggapan bahwa tradisi adalah sesuatu yang kolot. Mereka akan tertarik dan mau melibatkan diri di setiap tradisi serta berkeinginan untuk melestarikan tradisi daerah.
            Jika masyarakat dan pemuda Kuningan bisa mempertahankan tradisinya, Kuningan akan menjadi kabupaten yang terkenal dan kaya akan tradisi dan budaya khasnya. Seperti masyarakat Baduy di Banten yang masih memelihara tradisi di tengah zaman modernisasi. Kuningan bisa menjadi kota tradisi namun tetap mengikuti perkembangan zaman. Hal ini jika dimanfaatkan bisa menambah devisa dikarenakan banyak wisatawan lokal maupun asing yang tertarik untuk mengunjungi Kuningan.
            Pelestarian tradisi perlu dilakukan oleh semua elemen masyarakat termasuk generasi muda. Pemuda Kuningan dapat berperan aktif dan terlibat langsung pada setiap tradisi. Dukungan dari Pemerintah Daerah Kuningan pun sangat dibutuhkan. Pelaksanaan tradisi juga harus dimaknai secara dalam agar suatu tradisi tidak hilang begitu saja karena masyarakat lupa akan maknanya.

Hujan dan Pelangi

Udara dingin masuk ke sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Aku mengerjap, kemudian bangun dari tidurku.
Hari minggu ini terkesan berbeda. Teman-teman asramaku terlihat lebih santai untuk membaca di ruang tamu dibanding keluar asrama untuk jogging seperti biasanya. Aku memilih seperti mereka karena di luar cuaca begitu mendung dan gelap, padahal kan dinding baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Rintik hujan mulai turun perlahan membasahi tiap jengkal di luar sana dengan dinginnya yang menusuk kulit hingga ke tulang.
Merasa bosan, aku pergi ke perpustakaan asrama yang jauh lebih banyak bukunya dibanding yang ada di ruang tamu.
Rupanya hari ini perpustakaan sedikit sepi, mungkin mereka lebih memilih untuk melanjutkan tidur mereka ataupun membaca di ruang tamu. Hanya empat orang di perpustakaan.
Aku duduk di samping jendela sambil memandang keluar tanpa mempedulikan buku yang telah aku buka di meja. Reza tersenyum padaku dan aku balas dengan senyuman kembali. Aku mendesah karena hujan semakin deras dan deras. Hhhh.....
~~
Aku sampai di rumah bibi dengan selamat meski hujan turun begitu lebat disertai angin badai.
"Ayah, Ibu... Sebaiknya kalian jangan pulang sekarang. Jalanan licin dan banyak pohon yang tumbang..." aku memohon. Bibi menyetujui usulku, tapi tidak dengan ayah dan ibu. Mereka memaksa untuk malam itu juga.
Mesin mulai menderu bertanding dengan suara hujan deras yang turun. Aku dan bibi melambaikan tangan sampai mobil berbelok di persimpangan. Tak lama berselang, terdengar suara benturan yang sangat keras.
Bbrraaakkkk.........
Badanku gemetar, aku berlari menerjang hujan dengan kali yang terasa lemas. Ketika berbelok, aku rasa sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhku ini. Aku tersungkur.
"Ayaaaah... Ibuuuu....." teriakku parau. Tangisku pecah, bibi langsung memelukku.
~~
"Alyssa..... Sadarlah... Alyssa..... Kau dengar aku?" Aku berguncang-guncang hingga terbangun. Reza menatapku cemas dan menanyakan keadaanku.
Aku menilik setiap sudut ruang perpustakaan. Hanya aku dan Reza. Sementara hujan seperti tak kunjung reda dan semakin gelap menghiasi langit.
"Reza.... Temani aku.. Jangan tinggalkan aku.." ujarku takut.
Ia tersenyum, "tenanglah Alyssa.. Aku tak akan meninggalkanmu"
Aku menangis di pundak Reza, mengeluarkan segala ketakutan pada hujan dan peristiwa itu, dan Reza membiarkan pundaknya untuk dipinjamkan padaku.
Setelah tangisku reda, ia mengajakku ke beranda untuk melihat hujan. Aku menolak, tapi Reza memaksa.
Uluran tangannya mampu menahan beberapa titik air itu tidak jatuh ke tanah. Ia tersenyum.
Tubuhku menggigil karena dingin dan Reza memberikan jaketnya padaku, sementara ia hanya mengenakan kaus putih tipis.
"Alyssa.. Kau tau? Kau bukanlah satu-satunya orang yang kehilangan akibat hujan. Aku mengerti perasaanmu, tapi..."
"kau tidak mengerti Za.."
"tidak Lys.. Aku mengerti, sangat mengerti. Sebab, hujanlah yang merenggut nyawa keluargaku. Ayah, Ibu, Kakak, Paman. Semua karena hujan".
"Reza.."
"tenang. Kini aku tidak takut dengan hujan. Meski awalnya aku selalu gemetar dan takut seperti kau, Alyssa. Tapi semakin lama aku sadar, ini bukan salah hujan Alyssa.. Melainkan karena sudah ditakdirkan.
Lagi pula Ayah pernah berkata padaku 'Reza.. Kau tidak boleh membenci hujan bagaimanapun keadaanmu' ya seperti itu" Reza tersenyum.
"tapi Reza... Aku tak bisa menghilangkan ketakutan itu. Itu semua datang dengan sendirinya". Reza menoleh padaku dan mendesah
"Alyssa.. Kau tak pernah tau hujan itu hal yang luar biasa".
"Aku tak mengerti Za.."
"kita tak pernah tau, berapa banyak titik air itu turun dalam tiap desah nafas kita, tiap detak jantung kita, tiap denyut nadi kita. Bahkan tiap tetesnya adalah bagian dari lagu semangat yang memberikan ketenangan dan keberanian bagi kita.
Yah.. Kau harus bisa merasakan semua itu Alyssa. Merasakan bagaimana hujan menyampaikan perasaannya dan mengalir dalam tiap rintik yang membasahi kita."
Ah Reza..
Entah mengapa, aku semakin kagum dengannya. Berada di sisinya membuatku merasa nyaman.
"dan kau harus tau juga, hujan adalah hal yang luar biasa yang mengantarkan hal luar biasa lainnya, yaitu pelangi. Lihat itu! Meski teori pelangi sudah jelas adanya, tetap saja menurutku itu sangat luar biasa. Bagaimana bisa semua warna itu menumpuk jadi satu dan membentuk busur?"
Aku tertawa kecil. Reza kau terlihat tampan dengan rambutmu yang tertiup angin itu.