Kuningan
adalah sebuah kabupaten yang indah dan asri, terletak di bagian timur Jawa
Barat dan penghubung Kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur, juga sebagai
jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Lokasi Kuningan yang bagian timurnya berupa dataran rendah sedangkan di bagian
barat berupa pegunungan dengan puncaknya Gunung Ciremai di perbatasan Kabupaten
Majalengka, menyebabkan Kuningan mempunyai kebudayaan yang sangat beragam, baik
itu budaya lokal maupun akulturasi dengan budaya daerah lain.
Kuningan
mewarisi kebudayaan Sunda yang sangat kental, hal ini terlihat pada pemakaian
Bahasa Sunda yang dominan di masyarakat dan tradisi Sunda yang khas pada setiap
upacara adat. Beberapa tradisi Kuningan antara lain Saptonan, Seren Taun, Kawin
Cai, Sintren dan Cingcowong.
Saptonan adalah acara rutin setiap
tahun pada Bulan September yang diselenggarakan Hari Sabtu setelah kegiatan
serba raga yang dilaksanakan di sekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan) dan
mempunyai makna seperti heroism serta kebersamaan antara pemerintah dan
rakyatnya.
Upacara Seren Taun adalah penyerahan
hasil panen yang diterima pada tahun ini serta salah satu media dalam
mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkah seiring dengan
harapan agar tahun depan hasil panen dapat lebih melimpah lagi. Upacara ini
biasa dilaksanakan di Kecamatan Cigugur pada tanggal 22 Raya Agung.
Upacara adat Kawin Cai merupakan
tradisi untuk memohon air hujan untuk mengairi lahan pertanian serta kebutuhan
hidup lainnya. Dilaksanakan apabila terjadi kemarau panjang dengan mencampurkan
mata air Balong Dalem dan mata air Cibulan. Upacara ini bertujuan untuk
mengambil berkah air, biasa diselenggarakan di Kecamatan Jalaksana.
Sintren merupakan seni hiburan
rakyat yang pada pertunjukannya peran sintren harus dibawakan oleh seorang
gadis yang masih suci. Begitu pula dengan pawang sintren harus dibawakan oleh
sesepuh sehingga peran sintren yang sudah diikat dalam kurungan akan berubah
memakai pakaian sintren. Tradisi sintren masih dilestarikan di daerah
Cibingbin.
Cingcowong adalah salah satu upacara
ritual untuk meminta hujan pada zaman dahulu di saat musim kemarau panjang.
Tradisi ini dilaksanakan di Kecamatan Luragung.
Dengan tradisinya yang beragam,
apakah masyarakat Kuningan, khususnya generasi muda mengenali tradisinya?
Realitanya, banyak dari mereka yang tidak tahu bahkan tidak pernah mendengar
tradisi-tradisi tersebut. Hanya sedikit masyarakat dan generasi muda yang tahu,
itupun hanya tradisi di daerah tempat tinggalnya saja. Para pemuda Kuningan seolah-olah tidak mau ikut campur
dengan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Tidak heran jika tradisi
yang dimiliki hampir hilang karena tidak dilestarikan.
Penyebab suatu tradisi tidak
dilestarikan diantaranya adalah minimnya enkulturasi atau sosialisasi budaya.
Masyarakat dan pemuda Kuningan
merasa tidak tahu karena kurangnya informasi tentang tradisi tersebut.
Tradisi-tradisi yang ada tidak ditanamkan dan diajarkan kepada pemuda sehingga
mereka bersikap acuh tak acuh dengan tradisi setempat. Para pemuda Kuningan beranggapan bahwa tradisi dan
budaya adalah sesuatu yang kolot dan
sudah ketinggalan zaman pada saat ini sehingga pantas untuk ditinggalkan karena
tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemuda kurang dilibatkan
pada setiap tradisi. Selama ini hanya sesepuh daerah yang berperan menjaga
tradisi. Sesepuh yang terlibat aktif untuk melaksanakan tradisi sementara
pemuda kurang diikutsertakan sehingga
pantaslah jika pemuda merasa tidak pernah mengetahui dan tidak pernah melihat
pelaksanaan tradisi tersebut.
Agar tradisi tetap dilestarikan,
para pemuda harus ditanamkan dan diajarkan tentang tradisi daerahnya. Pemuda Kuningan perlu diperkenalkan dengan
tradisinya agar mereka mengetahui dan memahami pentingnya menjaga tradisi yang
hampir punah. Pengenalan tradisi dan budaya bisa dilaksanakan di sekolah karena sekolah
merupakan media terpadu untuk proses belajar mengajar. Untuk itu, Pemerintah Daerah Kuningan perlu memasukkan
konten pelestarian tradisi daerah di dalam pembelajaran. Enkulturasi atau
sosialisasi budaya ini sangat diperluakn untuk membangun kecintaan terhadap
tradisi daerah. Selain itu, perlu diadakan revitalisasi budaya atau pengemasan
ulang budaya agar kebudayaan tersebut terlihat menari. Tradisi Kuningan bisa dipadukan dengan hal
yang mengikuti perkembangan zaman seperti mode pakaian dan musik modern, namun
tetap mengandung unsur-unsur inti suatu tradisi dan makna yang terkandung tidak
berubah. Dengan adanya revitalisasi budaya, pemuda tidak akan beranggapan bahwa
tradisi adalah sesuatu yang kolot. Mereka akan tertarik dan mau melibatkan diri
di setiap tradisi serta berkeinginan untuk melestarikan tradisi daerah.
Jika
masyarakat dan pemuda Kuningan bisa mempertahankan tradisinya, Kuningan akan
menjadi kabupaten yang terkenal dan kaya akan tradisi dan budaya khasnya.
Seperti masyarakat Baduy di Banten yang masih memelihara tradisi di tengah
zaman modernisasi. Kuningan bisa menjadi kota tradisi namun tetap mengikuti
perkembangan zaman. Hal ini jika dimanfaatkan bisa menambah devisa dikarenakan
banyak wisatawan lokal maupun asing yang tertarik untuk mengunjungi Kuningan.
Pelestarian
tradisi perlu dilakukan oleh semua elemen masyarakat termasuk generasi muda. Pemuda
Kuningan dapat berperan aktif dan terlibat langsung pada setiap tradisi.
Dukungan dari Pemerintah Daerah Kuningan pun sangat dibutuhkan. Pelaksanaan
tradisi juga harus dimaknai secara dalam agar suatu tradisi tidak hilang begitu
saja karena masyarakat lupa akan maknanya.