Sabtu, 07 November 2015

Tradisi Kuningan yang Terlupakan



Kuningan adalah sebuah kabupaten yang indah dan asri, terletak di bagian timur Jawa Barat dan penghubung Kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur, juga sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi Kuningan yang bagian timurnya berupa dataran rendah sedangkan di bagian barat berupa pegunungan dengan puncaknya Gunung Ciremai di perbatasan Kabupaten Majalengka, menyebabkan Kuningan mempunyai kebudayaan yang sangat beragam, baik itu budaya lokal maupun akulturasi dengan budaya daerah lain.
Kuningan mewarisi kebudayaan Sunda yang sangat kental, hal ini terlihat pada pemakaian Bahasa Sunda yang dominan di masyarakat dan tradisi Sunda yang khas pada setiap upacara adat. Beberapa tradisi Kuningan antara lain Saptonan, Seren Taun, Kawin Cai, Sintren dan Cingcowong.
            Saptonan adalah acara rutin setiap tahun pada Bulan September yang diselenggarakan Hari Sabtu setelah kegiatan serba raga yang dilaksanakan di sekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan) dan mempunyai makna seperti heroism serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya.
            Upacara Seren Taun adalah penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun ini serta salah satu media dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkah seiring dengan harapan agar tahun depan hasil panen dapat lebih melimpah lagi. Upacara ini biasa dilaksanakan di Kecamatan Cigugur pada tanggal 22 Raya Agung.
            Upacara adat Kawin Cai merupakan tradisi untuk memohon air hujan untuk mengairi lahan pertanian serta kebutuhan hidup lainnya. Dilaksanakan apabila terjadi kemarau panjang dengan mencampurkan mata air Balong Dalem dan mata air Cibulan. Upacara ini bertujuan untuk mengambil berkah air, biasa diselenggarakan di Kecamatan Jalaksana.
            Sintren merupakan seni hiburan rakyat yang pada pertunjukannya peran sintren harus dibawakan oleh seorang gadis yang masih suci. Begitu pula dengan pawang sintren harus dibawakan oleh sesepuh sehingga peran sintren yang sudah diikat dalam kurungan akan berubah memakai pakaian sintren. Tradisi sintren masih dilestarikan di daerah Cibingbin.
            Cingcowong adalah salah satu upacara ritual untuk meminta hujan pada zaman dahulu di saat musim kemarau panjang. Tradisi ini dilaksanakan di Kecamatan Luragung.
            Dengan tradisinya yang beragam, apakah masyarakat Kuningan, khususnya generasi muda mengenali tradisinya? Realitanya, banyak dari mereka yang tidak tahu bahkan tidak pernah mendengar tradisi-tradisi tersebut. Hanya sedikit masyarakat dan generasi muda yang tahu, itupun hanya tradisi di daerah tempat tinggalnya saja. Para pemuda Kuningan seolah-olah tidak mau ikut campur dengan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Tidak heran jika tradisi yang dimiliki hampir hilang karena tidak dilestarikan.
            Penyebab suatu tradisi tidak dilestarikan diantaranya adalah minimnya enkulturasi atau sosialisasi budaya. Masyarakat dan pemuda Kuningan merasa tidak tahu karena kurangnya informasi tentang tradisi tersebut. Tradisi-tradisi yang ada tidak ditanamkan dan diajarkan kepada pemuda sehingga mereka bersikap acuh tak acuh dengan tradisi setempat. Para pemuda Kuningan beranggapan bahwa tradisi dan budaya  adalah sesuatu yang kolot dan sudah ketinggalan zaman pada saat ini sehingga pantas untuk ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemuda kurang dilibatkan pada setiap tradisi. Selama ini hanya sesepuh daerah yang berperan menjaga tradisi. Sesepuh yang terlibat aktif untuk melaksanakan tradisi sementara pemuda kurang diikutsertakan sehingga pantaslah jika pemuda merasa tidak pernah mengetahui dan tidak pernah melihat pelaksanaan tradisi tersebut.
            Agar tradisi tetap dilestarikan, para pemuda harus ditanamkan dan diajarkan tentang tradisi daerahnya. Pemuda Kuningan perlu diperkenalkan dengan tradisinya agar mereka mengetahui dan memahami pentingnya menjaga tradisi yang hampir punah. Pengenalan tradisi dan budaya bisa dilaksanakan di sekolah karena sekolah merupakan media terpadu untuk proses belajar mengajar. Untuk itu, Pemerintah Daerah Kuningan perlu memasukkan konten pelestarian tradisi daerah di dalam pembelajaran. Enkulturasi atau sosialisasi budaya ini sangat diperluakn untuk membangun kecintaan terhadap tradisi daerah. Selain itu, perlu diadakan revitalisasi budaya atau pengemasan ulang budaya agar kebudayaan tersebut terlihat menari. Tradisi Kuningan bisa dipadukan dengan hal yang mengikuti perkembangan zaman seperti mode pakaian dan musik modern, namun tetap mengandung unsur-unsur inti suatu tradisi dan makna yang terkandung tidak berubah. Dengan adanya revitalisasi budaya, pemuda tidak akan beranggapan bahwa tradisi adalah sesuatu yang kolot. Mereka akan tertarik dan mau melibatkan diri di setiap tradisi serta berkeinginan untuk melestarikan tradisi daerah.
            Jika masyarakat dan pemuda Kuningan bisa mempertahankan tradisinya, Kuningan akan menjadi kabupaten yang terkenal dan kaya akan tradisi dan budaya khasnya. Seperti masyarakat Baduy di Banten yang masih memelihara tradisi di tengah zaman modernisasi. Kuningan bisa menjadi kota tradisi namun tetap mengikuti perkembangan zaman. Hal ini jika dimanfaatkan bisa menambah devisa dikarenakan banyak wisatawan lokal maupun asing yang tertarik untuk mengunjungi Kuningan.
            Pelestarian tradisi perlu dilakukan oleh semua elemen masyarakat termasuk generasi muda. Pemuda Kuningan dapat berperan aktif dan terlibat langsung pada setiap tradisi. Dukungan dari Pemerintah Daerah Kuningan pun sangat dibutuhkan. Pelaksanaan tradisi juga harus dimaknai secara dalam agar suatu tradisi tidak hilang begitu saja karena masyarakat lupa akan maknanya.

Hujan dan Pelangi

Udara dingin masuk ke sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Aku mengerjap, kemudian bangun dari tidurku.
Hari minggu ini terkesan berbeda. Teman-teman asramaku terlihat lebih santai untuk membaca di ruang tamu dibanding keluar asrama untuk jogging seperti biasanya. Aku memilih seperti mereka karena di luar cuaca begitu mendung dan gelap, padahal kan dinding baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Rintik hujan mulai turun perlahan membasahi tiap jengkal di luar sana dengan dinginnya yang menusuk kulit hingga ke tulang.
Merasa bosan, aku pergi ke perpustakaan asrama yang jauh lebih banyak bukunya dibanding yang ada di ruang tamu.
Rupanya hari ini perpustakaan sedikit sepi, mungkin mereka lebih memilih untuk melanjutkan tidur mereka ataupun membaca di ruang tamu. Hanya empat orang di perpustakaan.
Aku duduk di samping jendela sambil memandang keluar tanpa mempedulikan buku yang telah aku buka di meja. Reza tersenyum padaku dan aku balas dengan senyuman kembali. Aku mendesah karena hujan semakin deras dan deras. Hhhh.....
~~
Aku sampai di rumah bibi dengan selamat meski hujan turun begitu lebat disertai angin badai.
"Ayah, Ibu... Sebaiknya kalian jangan pulang sekarang. Jalanan licin dan banyak pohon yang tumbang..." aku memohon. Bibi menyetujui usulku, tapi tidak dengan ayah dan ibu. Mereka memaksa untuk malam itu juga.
Mesin mulai menderu bertanding dengan suara hujan deras yang turun. Aku dan bibi melambaikan tangan sampai mobil berbelok di persimpangan. Tak lama berselang, terdengar suara benturan yang sangat keras.
Bbrraaakkkk.........
Badanku gemetar, aku berlari menerjang hujan dengan kali yang terasa lemas. Ketika berbelok, aku rasa sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhku ini. Aku tersungkur.
"Ayaaaah... Ibuuuu....." teriakku parau. Tangisku pecah, bibi langsung memelukku.
~~
"Alyssa..... Sadarlah... Alyssa..... Kau dengar aku?" Aku berguncang-guncang hingga terbangun. Reza menatapku cemas dan menanyakan keadaanku.
Aku menilik setiap sudut ruang perpustakaan. Hanya aku dan Reza. Sementara hujan seperti tak kunjung reda dan semakin gelap menghiasi langit.
"Reza.... Temani aku.. Jangan tinggalkan aku.." ujarku takut.
Ia tersenyum, "tenanglah Alyssa.. Aku tak akan meninggalkanmu"
Aku menangis di pundak Reza, mengeluarkan segala ketakutan pada hujan dan peristiwa itu, dan Reza membiarkan pundaknya untuk dipinjamkan padaku.
Setelah tangisku reda, ia mengajakku ke beranda untuk melihat hujan. Aku menolak, tapi Reza memaksa.
Uluran tangannya mampu menahan beberapa titik air itu tidak jatuh ke tanah. Ia tersenyum.
Tubuhku menggigil karena dingin dan Reza memberikan jaketnya padaku, sementara ia hanya mengenakan kaus putih tipis.
"Alyssa.. Kau tau? Kau bukanlah satu-satunya orang yang kehilangan akibat hujan. Aku mengerti perasaanmu, tapi..."
"kau tidak mengerti Za.."
"tidak Lys.. Aku mengerti, sangat mengerti. Sebab, hujanlah yang merenggut nyawa keluargaku. Ayah, Ibu, Kakak, Paman. Semua karena hujan".
"Reza.."
"tenang. Kini aku tidak takut dengan hujan. Meski awalnya aku selalu gemetar dan takut seperti kau, Alyssa. Tapi semakin lama aku sadar, ini bukan salah hujan Alyssa.. Melainkan karena sudah ditakdirkan.
Lagi pula Ayah pernah berkata padaku 'Reza.. Kau tidak boleh membenci hujan bagaimanapun keadaanmu' ya seperti itu" Reza tersenyum.
"tapi Reza... Aku tak bisa menghilangkan ketakutan itu. Itu semua datang dengan sendirinya". Reza menoleh padaku dan mendesah
"Alyssa.. Kau tak pernah tau hujan itu hal yang luar biasa".
"Aku tak mengerti Za.."
"kita tak pernah tau, berapa banyak titik air itu turun dalam tiap desah nafas kita, tiap detak jantung kita, tiap denyut nadi kita. Bahkan tiap tetesnya adalah bagian dari lagu semangat yang memberikan ketenangan dan keberanian bagi kita.
Yah.. Kau harus bisa merasakan semua itu Alyssa. Merasakan bagaimana hujan menyampaikan perasaannya dan mengalir dalam tiap rintik yang membasahi kita."
Ah Reza..
Entah mengapa, aku semakin kagum dengannya. Berada di sisinya membuatku merasa nyaman.
"dan kau harus tau juga, hujan adalah hal yang luar biasa yang mengantarkan hal luar biasa lainnya, yaitu pelangi. Lihat itu! Meski teori pelangi sudah jelas adanya, tetap saja menurutku itu sangat luar biasa. Bagaimana bisa semua warna itu menumpuk jadi satu dan membentuk busur?"
Aku tertawa kecil. Reza kau terlihat tampan dengan rambutmu yang tertiup angin itu.

Sabtu, 26 September 2015

Perwujudan Rasa Syukur Masyarakat Cigugur Dengan Seren Taun


        Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Manusia diberi beberapa kelebihan, salah satunya dianugerahi kepekaan rasa atau getaran cinta kasih terhadap Sang Pencipta, sesama manusia maupun alam. Seiring berkembangnya pola pikir dan pola rasa manusia, sudah seharusnya manusia merealisasikan rasa syukur atas hidup dan kehidupan kepada Sang Pencipta. Pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan berbeda-beda, tergantung suatu suku, bangsa dan keyakinan, namun makna yang terkandung sama. Kesamaan itu disebabkan hakikat penciptaan manusia, yakni satu asal, satu ciptaan dan satu bakal. Pengertian satu asal yaitu kita berasal dari tanah sebagai bahan baku yang sama. Satu ciptaan yaitu kita memiliki kesamaan diciptakan oleh Tuhan. Dan satu bakal yaitu kita bakal atau akan kembali ke akhirat pada hari akhir nanti.
            Salah satu wujud pengungkapan rasa syukur yang dilakukan masyarakat Sunda adalah Upacara Adat Seren Taun. Jika diartikan secara harfiah dalam Bahasa Sunda, seren berarti serah atau seserahan, dan taun berarti tahun yang terdiri dari duabelas bulan. Seren Taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian selama satu tahun yang telah berlalu serta berharap hasil pertanian akan meningkat pada tahun yang akan datang. Upacara Seren Taun masih digelar di beberapa wilayah Jawa Barat dan Banten seperti Desa Cigugur Kuningan, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kampung Naga Tasikmalaya dan Desa Kanekes Banten.
            Upacara Seren taun yang diadakan masyarakat Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan dilaksanakan di pelataran Gedung Paseban Tri Panca Tunggal.Paseban tersebut memiliki makna tempat mempersatukan tiga kehendak yaitu cipta, rasa dan karsa, yang diwujudkan dalam sikap perilaku melalui aktivitas panca indera.Perlu diketahui bahwa masyarakat Desa Cigugur menganut beberapa agama dan adat istiadat. Bentuk kepercayaan masyarakat yang masih kental ditunjukkan dalam acara Seren Taun .Adapun acara tersebut diikuti oleh ribuan orang dari pelosok Jawa Barat yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara Seren Taun. Selain itu, setiap perwakilan suku di Indonesia akan menghadiri acara tersebut dengan pakaian khas daerahnya masing-masing.
            Pesta rakyat ini biasanya berlangsung seminggu mulai dari tanggal 18 Raya Agung dan puncaknya pada tanggal 22 Raya Agung, bulan terakhir atau bulan keduabelas dalam perhitungan tahun Sunda (Saka), atau 18-22 Dzulhijjah dalam perhitungan tahun Hijriyah. Raya Agung berarti keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20 dan 2. Duapuluh dilambangkan sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya kesadaran diri selaku manusia. Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat berpasangan seperti baik dan buruk, suka dan duka, serta laki-laki dan perempuan. Bilangan 22 juga digunakan dalam simbolis padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali pada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih.
            Seren Taun di Cigugur dibawa oleh Pangeran Madrais atau Pangeran Alibasa Kusuma Adiningrat (1825-1939) yang merupakan keturunan Keraton Gebang, daerah Cirebon Timur. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning langit yang turun ke bumi. Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran dan merupakan sumber bahan makanan utama. Dalam upacara ini dituturkan kembali kisah-kisah klasik yang bercerita tentang perjalanan Dewi Sri.
            Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga pentas kesenian. Kegiatan in bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan antar sesama manusia dan alam. Dalam pelaksanaannya, Seren Taun dilaksanakan oleh masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan. Hal ini merupakan wujud realisasi dari semboyan Bangsa Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika.
            Hal yang ditampilkan dalam acara Seren Taun antara lain Damar Sewu atau seribu pelita yang merupakan awal dari rangkaian upacara adat Seren Taun yang menggambarkan pelita hati manusia dalam menjalani proses kehidupan. Pesta Dadung merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan alam seperti peneneman pohon dan pembuangan hama.Nyiblung merupakan perlombaan yang menggunakan air sebagai medianya, air yang dipukul akan menghasilkan bunyi tertentu sehingga akan tercipta nada indah. Berbagai kesenian pun ditampilkan dalam upacara ini, antara lain Angklung Buncis yang merupakan angklung khas daerah Cigugur, Angklung Baduy, Pencak Silat dan lain-lain.
            Pada malam sebelum hari puncak, diadakan doa bersama di gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Prosesi ini disebut Ngajarah. Acara ini sangat khidmat. Para pemuka dari setiap agama secara bergiliran membacakan doa, memohon kepada Tuhan agar tahun-tahun yang akan datang selalu diberkahi-Nya. Di dalam acara ini pun terdapat dialog terbuka lintas agama mengenai lingkungan.
            Tiba saat hari puncak, para petani dengan perasaan sukaria membawa pikulan padi. Prosesi ini dinamakan Ngajayak yang berarti menjemput padi. Pada prosesi ini, terdapat empat barisan yang mewakili empat arah mata angin yakni barat, utara, timur dan selatan. Hal ini mengandung arti bahwa Tuhan telah menyiapkan sumber-sumber kehidupan di setiap penjuru alam. Setiap baris terdiri dari sebelas pasang remaja putri dan putra, para ibu dan para bapak yang membawa hasil bumi.
            Barisan terdepan yaitu sebelas remaja putri yang membawa buah-buahan, umbi-umbian dan padi yang dipayungi oleh sebelas remaja putra secara berpasangan. Bilangan sebelas atau sawelas dalam Bahasa Sunda memiliki arti cinta kasih. Para remaja digambarkan sebagai pemegang tongkat estafet atau generasi penerus hidup dan kehidupan bangsa. Dibelakang barisan remaja, ada ibu-ibu yang menyuhun nampan berisi padi dan buah-buahan di atas kepala. Menyuhun berasal dari katanyuwun artinya memohon. Hal ini bemakna doa memohon agar generasi penerus dapat menjalankan amanah sesuai aturan Yang Maha Kuasa. Di belakang barisan ibu-ibu, ada bapak-bapak yang memikul rengkong atau bambu yang berisi padi. Makna dari hal ini adalah kaum pria memiliki tanggungjawab atas keluarganya.
            Ketika barisan hampir tiba di tempat upacara, barisan berhenti sejenak untuk menyaksikan Tari Buyung khas daerah Cigugur. Tarian ini diangkat dari kebiasaan lampau masyarakat Cigugur dalam mengambil air. Tarian ini melibatkan puluhan penari. Dengan konsentrasi penuh, penari mampu berdiri di atas kendi sambil menyuhun tong berisi air di dalamnya serta melenggak-lengok dengan menawan.
            Saat tiba di tempat upacara, padi sebanyak 2 kwintal diserahkan kepada ketua adat. Padi tersebut akan disimpan dan dijadikan bibit untuk tahun mendatang. Sementara itu, beberapa lesung panjang siap diisi untaian padi. Kaum ibu tampil seragam dengan mengenakan kostum kuning simbol keemasan dan seuntai padi yang menghiasi rambut. Selanjutnya, padi sebanyak 20 kwintal ditumbuk bersama-sama. Acara penumbukan padi melibatkan semua orang, baik pria-wanita, tua-muda, akan melebur jadi satu. Acara ini merupakan titik puncak Seren Taun yang sakral.
            Seribu kentongan merupakan acara penutup dari rangkaian upacara Seren Taun. Dimulai dengan pukulan awal oleh ketua adat kemudian diikuti oleh para peserta. Kentongan bambu memiliki arti kita harus ingat pada asal dan hukum yang menentukan nilai kemanusiaan. Dan pada akhirnya rangkaian acara Seren Taun ditutup oleh rampak gendang yang terdiri dari sepuluh sampai duabelas orang.
            “Upacara Seren Taun dari tahun ke tahun berbeda, terdapat beberapa penambahan acara namun intinya tetap sama yaitu wujud syukur kepada Tuhan”, ujar Bapak Gumirat selaku wakil ketua adat. Beliau jugamenambahkan, maksud dan tujuan upacara Seren Taun di Cigugur antara lain mencerminkan budaya agraris, menghormati Sang Pencipta, mencerminkan hubungan manusia dengan alam, membangun kebersamaan dan perekat persatuan dalam kebudayaan. Budaya gotong royong sangat dijunjung, contohnya dalam rangkaian persiapan menuju perayaan Seren Taun. Semua orang saling membantu tanpa melihat ras maupun agama.
            Masyarakat setempat menganggap kegiatan Seren Taun dapat mendatangkan berkah dan membuat hasil pertanian melimpah pada tahun yang akan datang. Meskipun upacara Seren Taun sempat dilarang pada tahun 1982 tanpa adanya alasan yang jelas dan tahun 1988 dengan alasan adanya unsur Agama Djawa Sunda (ADS) yang dianggap menyimpang dari agama yang sudah ada. Tuntutan perizinan yang berbelit-belit, menyebabkan Seren Taun pada tahun 1989 pun tidak dilaksanakan. Meski begitu, masyarakat tetap berkumpul di gedung Paseban Tri Panca Tunggal karena merasa terpanggil untuk bersyukur walau tidak lagi diekspresikan dalam formalisasi upacara yang layak. Seiring berjalannya waktu, karena Seren Taun merupakan kebutuhan masyarakat Cigugur dan mereka merasakan makna yang terkandung di dalam pelaksanaan Seren Taun, maka upacara ini kembali diperbolehkan meskipun tidak semeriah tahun-tahun sebelum adanya pembubaran. Di samping itu, kini pemerintah daerah Kabupaten Kuningan sangat mendukung adanya upacara Seren Taun dikarenakan banyak wisatawan asing yang datang sehingga dapat menambah devisa serta menambah penghasilan bagi para pedagang di sekitar tempat upacara berlangsung.

Penulis: Siti Rahmaniah Nurfaathiroh
Publikasi: 26 September 2015

Hijab


Seorang gadis membeli sebuah hape keluaran terbaru. Untuk melengkapi hapenya nya gadis itu juga membeli layar antigores dan sebuah cover cantik untuk hape tersebut. Gadis itu menunjukkan handphone barunya kepada sang ayah, kemudian terjadi percakapan seperti di bawah ini:
Ayah: “Wah, hape mu bagus sekali nak. Berapa harganya?”
Gadis: “Harga hapenya 7 juta, 200 ribu untuk covernya, dan 100 ribu untuk antigoresnya.”
Ayah: “Oh, kenapa kamu sampai harus membeli cover dan antigoresnya? Padahal kamu bisa menghemat 300 ribu”.
Gadis: “Ayah! Aku sudah menghabiskan 7 juta untuk membeli hape ini, bagaimana kalau hape ini sampai rusak!? 300 ribu bukan apa-apa dibanding keamanan hapeku. Lagipula covernya membuat hapeku semain terlihat cantik.”
Ayah:” Hmm, bukankah berarti produsen hapemu itu teledor karena membuat hape yang tidak cukup aman jika tidak pakai perlindungan?”
Gadis:” Tidak Ayah! Produsen Hape ini sendiri yang merekomendasikan untuk membeli layar antigores dan cover untuk perlindungan. Dan aku tentu tidak mau Hapeku rusak!”
Ayah: “Apakah semua itu malah membuat kecantikan hapemu berkurang?”
Gadis: “Tidak, malah Hapeku semakin terlihat cantik”.
Sang ayah menatap anak perempuannya kesayangannya dengan senyum penuh sayang. Kemudian sang ayah berucap, “Anakku, kamu tahu ayah sangat menyayangimu. Kamu membayar 7 juta untuk membeli hape favoritmu dan 300 ribu untuk perlindungannya. Dan Ayah sudah membayar dengan segenap hidup ayah untuk memilikimu, apalah artinya kalau kau tidak mengcover dirimu dengan hijab untuk perlindunganmu. Handphone ini tidak akan dipertanyakan di akhirat ini, tapi anakku, kau dan ayah akan dipertanyakan tentang perlindunganmu. Jika kau merelakan menghabiskan banyak uang untuk membuat hapemu terlindungi dan tampak indah. Maka kau harus bisa pula melakukan itu untuk dirimu. Kau akan terlindungi dan tampak cantik jika kau menggunakan hijab syar'i."

Senin, 04 Mei 2015

Mars Kuningan Di Mata Masyarakat Kuningan



Mars Kuningan Di Mata Masyarakat Kuningan


Kuningan ASRI
Walagri kuningan ASRI
Waluya rahayu nagri
Sarakan tempat bumetah
Aman, sehat, rindang, indah

Kuningan lumaku tandang
Dangiang galura juang
Hareupan udagan nanjung
Nyangga pangwangunan

Linggarjati jadi ciri
Nu abadi
Gunung ciremai mayungan
Galura na perjuangan

Kuningan alam nu endah
Tempat wisata
Kuningan rapih winangun kertaraharja


Kuningan Tandang Maju Tanding
Kuningan kiwari hangkeut ngawangun
Mupul daya mancegegeun tatapakan
Butbat jalan gedong sigrong
Seja tandang maju tanding

Kuningan niat singkil babarengan
Padungdung di medan winangun
Barjuang ningkatkeun karaharjaan
Ngariksa hasil mungkaskeun udagan

Tekad anu jadi dadasar
Mimigran jadi visi utama
Pangwangunana sagala widang
Sangkan rahayat ajeg mandiri

Hayu tandang teuneung ludeung
Rampak bareng maju rambatirata
Sumanget juang jadi pakarang
Mapag juang kerta raharja
Raharja



Dua lagu diatas merupakan lagu kedaerahan Kuningan, Jawa Barat. Lagu kedaerahan adalah lagu atau musik yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan baik oleh rakyat daerah tersebut. Namun, apakah masyarakat Kuningan mengetahui kedua lagu diatas? Berdasarkan hasil survei yang dilakukan penulis kepada beberapa masyarakat Kuningan hanya 1 dari 4 responden yang mengetahui lagu tersebut. Kebanyakan yang mengetahui lagu tersebut berasal dari kalangan pemerintah daerah, sedangkan masyarakatpada umumnya tidak mengetahui. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mengetahui jika Kuningan memiliki lagu kedaerahan. Di kalangan pelajar pun lagu ini hanya diketahui oleh segelintir orang.
Hal ini sangat disayangkan, padahal lagu kedaerahan merupakan suatu ciri khas dari daerah tersebut yang mengandung makna tersendiri. Tetapi bagaimana masyarakat kuningan dapat memaknai lagu kedaerahan mereka jika kebanyakan dari mereka tidak mengetahuinya?
Ketika penulis melakukan wawancara kepada ketua bidang kebudayaan di DinasPariwisata dan Kebudayaan Kuningan, Enday, S.SI., menurut beliau lagu Kuningan ASRI menpunyai makna sebagai pembangkit dan motivator kecintaan terhadap daerah Kuningan. Isi dari lagu Kuningan ASRI menceritakan tentang suatu tempat yang sejahtera sehingga masyarakatnya betah tinggal didalamnya karena memiliki keindahan alam yang bisa dijadikan tempat wisata. Salah satunya tempat wisata Linggarjati yang menjadi ciri khas Kabupaten Kuningan dan Gunung Ciremai sebagai saksi jalannya perjuangan masyarakat dalam membangun Kuningan menuju daerah yang lebih maju.Lagu ini merupakan hadiah dari mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang melakukan kuliah kerja nyata di Kabupaten Kuningan yaitu Nano S. pada tahun 1992. Judul lagu ini diambil dari motto Kabupaten Kuningan yaitu ASRI (Aman, Sehat, Rindang dan Indah).
Sedangkan lagu Kuningan Tandang Maju Tanding bermakna tentang visi dan misi Kabupaten Kuningan pada masa kepemimpinan H. Aang Hamid Suganda, S.Sos. (2003-2013).Isi dari lagu Kuningan Tandang Maju Tanding menceritakan Kabupaten Kuningan yang sedang membangun kekuatan untuk berjuang bersama-sama selagi jalan masih terbuka lebar. Semangat dan tekad yang kuat dalam perjuangan di medan pembangunan untuk memberikan hasil yang lebih baik sehingga tercipta masyarakat yang mandiri.Lagu ini diciptakanoleh Con Hasanudinpada saat diminta untuk membuat lagu dalam rangka memeriahkan suatu lomba yang diselenggarakan di Desa Panawuan Kecamatan Cilimus pada tahun 2006. Kemudian bupati tertarik dengan lagu yang diaransemen oleh Drs. Cecep Amelia dan menjadikannya sebagai lagu kedaerahan Kabupaten Kuningan. Pada tahun 2009 dibuatlah rekaman lagu Kuningan tandang maju tanding yang sudah dilegalkan.
Jika dilihat dari isi dan maknanya,lagu Kuningan ASRI lebih cocokuntuk dijadikan mars Kuningan karena lagu ini bersifat abadi tanpa mengenal masa kepemerintahan di daerah Kuningan. Sedangkan lagu Kuningan Tandang Maju Tanding bersifat sementara karena visi dan misi yang terkandung di dalamnya hanya berlaku pada masa kepemimpinan H. Aang Hamid Suganda, S.Sos.
Akan tetapi, justru lagu Kuningan ASRI inilah yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat. Padahal lagu ini sering dinyanyikan pada acara-acara formal seperti rapat pemerintah daerah. Saat penulis melakukan wawancara dengan Bapak E. Surahman selaku direktur utama Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Kuningan, beliau mengatakan bahwasannya LPPL belum berani untuk menyiarkan lagu Kuningan ASRI  karena belum adanya rekaman yang legal sehingga ditakutkan adanya kesalahan dalam nada ataupun lirik. Hal ini dikarenakan tidak adanya anggaran khusus untuk pembuatan rekaman tersebut meskipun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah mengajukan gagasan mengenai hal tersebut.
Selain faktor diatas, terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan masyarakat Kuningan tidak mengetahui Mars Kuningan ASRI. Diantaranya adalah kurangnya kepekaan pemerintah dalam dunia pendidikan terhadap sejarah dan kebudayaan lokal dengan mengedepankan sejarah dan kebudayaan umum. Selain itu, pelajar di Kabupaten Kuningan pun merasa enggan untuk membudayakan lagu-lagu kedaerahan. Juga karena adanya akulturasi budaya yang disebabkan pernikahan antara masyarakat Kuningan dengan masyarakat daerah lain sehingga pengenalan budaya kepada keturunannya tidak terfokuskan.
Dengan beberapa faktor di atas, seharusnya pemerintah menyediakan dana khusus untuk membuat rekaman Mars Kuningan ASRI agar dapat di publikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kuningan. Selain itu upaya untuk mengenalkannya dapat dilakukan dengan cara memasukan lagu kedaerahan setempat ke dalam materi pembelajaran yang bersifat wajib dan dijadikan salah satu lagu yang dinyanyikan dalam upacara bendera di Kabupaten Kuningan. Disamping itu peran orang tua dalam mengenalkan lagu-lagu daerah sangat dibutuhkan agar keturunannya mengetahui kebudayaan lokal setempat.
Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif dari segala pihak agar Mars Kuningan ASRI dapat populer di masyarakat Kuningan sebagaimana lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.




Created by: Siti Rahmaniah N, Tia Sugiyanti, Tiara Rahmananda