Udara dingin masuk ke sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Aku mengerjap, kemudian bangun dari tidurku.
Hari minggu ini terkesan berbeda. Teman-teman asramaku terlihat lebih
santai untuk membaca di ruang tamu dibanding keluar asrama untuk jogging
seperti biasanya. Aku memilih seperti mereka karena di luar cuaca
begitu mendung dan gelap, padahal kan dinding baru menunjukkan pukul
tujuh lewat lima belas menit.
Rintik hujan mulai turun perlahan membasahi tiap jengkal di luar sana dengan dinginnya yang menusuk kulit hingga ke tulang.
Merasa bosan, aku pergi ke perpustakaan asrama yang jauh lebih banyak bukunya dibanding yang ada di ruang tamu.
Rupanya hari ini perpustakaan sedikit sepi, mungkin mereka lebih
memilih untuk melanjutkan tidur mereka ataupun membaca di ruang tamu.
Hanya empat orang di perpustakaan.
Aku duduk di samping jendela
sambil memandang keluar tanpa mempedulikan buku yang telah aku buka di
meja. Reza tersenyum padaku dan aku balas dengan senyuman kembali. Aku
mendesah karena hujan semakin deras dan deras. Hhhh.....
~~
Aku sampai di rumah bibi dengan selamat meski hujan turun begitu lebat disertai angin badai.
"Ayah, Ibu... Sebaiknya kalian jangan pulang sekarang. Jalanan licin
dan banyak pohon yang tumbang..." aku memohon. Bibi menyetujui usulku,
tapi tidak dengan ayah dan ibu. Mereka memaksa untuk malam itu juga.
Mesin mulai menderu bertanding dengan suara hujan deras yang turun.
Aku dan bibi melambaikan tangan sampai mobil berbelok di persimpangan.
Tak lama berselang, terdengar suara benturan yang sangat keras.
Bbrraaakkkk.........
Badanku gemetar, aku berlari menerjang hujan dengan kali yang terasa
lemas. Ketika berbelok, aku rasa sudah tak kuat lagi menahan berat
tubuhku ini. Aku tersungkur.
"Ayaaaah... Ibuuuu....." teriakku parau. Tangisku pecah, bibi langsung memelukku.
~~
"Alyssa..... Sadarlah... Alyssa..... Kau dengar aku?" Aku
berguncang-guncang hingga terbangun. Reza menatapku cemas dan menanyakan
keadaanku.
Aku menilik setiap sudut ruang perpustakaan. Hanya
aku dan Reza. Sementara hujan seperti tak kunjung reda dan semakin gelap
menghiasi langit.
"Reza.... Temani aku.. Jangan tinggalkan aku.." ujarku takut.
Ia tersenyum, "tenanglah Alyssa.. Aku tak akan meninggalkanmu"
Aku menangis di pundak Reza, mengeluarkan segala ketakutan pada hujan
dan peristiwa itu, dan Reza membiarkan pundaknya untuk dipinjamkan
padaku.
Setelah tangisku reda, ia mengajakku ke beranda untuk melihat hujan. Aku menolak, tapi Reza memaksa.
Uluran tangannya mampu menahan beberapa titik air itu tidak jatuh ke tanah. Ia tersenyum.
Tubuhku menggigil karena dingin dan Reza memberikan jaketnya padaku, sementara ia hanya mengenakan kaus putih tipis.
"Alyssa.. Kau tau? Kau bukanlah satu-satunya orang yang kehilangan akibat hujan. Aku mengerti perasaanmu, tapi..."
"kau tidak mengerti Za.."
"tidak Lys.. Aku mengerti, sangat mengerti. Sebab, hujanlah yang
merenggut nyawa keluargaku. Ayah, Ibu, Kakak, Paman. Semua karena
hujan".
"Reza.."
"tenang. Kini aku tidak takut dengan
hujan. Meski awalnya aku selalu gemetar dan takut seperti kau, Alyssa.
Tapi semakin lama aku sadar, ini bukan salah hujan Alyssa.. Melainkan
karena sudah ditakdirkan.
Lagi pula Ayah pernah berkata padaku
'Reza.. Kau tidak boleh membenci hujan bagaimanapun keadaanmu' ya seperti
itu" Reza tersenyum.
"tapi Reza... Aku tak bisa menghilangkan ketakutan itu. Itu semua datang dengan sendirinya". Reza menoleh padaku dan mendesah
"Alyssa.. Kau tak pernah tau hujan itu hal yang luar biasa".
"Aku tak mengerti Za.."
"kita tak pernah tau, berapa banyak titik air itu turun dalam tiap
desah nafas kita, tiap detak jantung kita, tiap denyut nadi kita. Bahkan
tiap tetesnya adalah bagian dari lagu semangat yang memberikan
ketenangan dan keberanian bagi kita.
Yah.. Kau harus bisa merasakan
semua itu Alyssa. Merasakan bagaimana hujan menyampaikan perasaannya
dan mengalir dalam tiap rintik yang membasahi kita."
Ah Reza..
Entah mengapa, aku semakin kagum dengannya. Berada di sisinya membuatku merasa nyaman.
"dan kau harus tau juga, hujan adalah hal yang luar biasa yang
mengantarkan hal luar biasa lainnya, yaitu pelangi. Lihat itu! Meski
teori pelangi sudah jelas adanya, tetap saja menurutku itu sangat luar
biasa. Bagaimana bisa semua warna itu menumpuk jadi satu dan membentuk
busur?"
Aku tertawa kecil. Reza kau terlihat tampan dengan rambutmu yang tertiup angin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar